Kata Hati vs Pikiran

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menemukan sampah di jalan yang sedang Anda lalui:

    • Apakah Anda akan mengambilnya lalu membuang pada tempat sampah?
    • Apakah Anda akan membiarkan begitu saja dan berpikiran nanti ada seseorang yang membersihkannya?

Jika Anda mengambil sampah itu lalu membuangnya pada tempat sampah, maka Anda sudah mendengarkan kata hati Anda, lalu melaksanakannya. Sedangkan jika Anda membiarkan begitu saja, maka Anda telah menuruti apa kata pikiran Anda.

Itulah perumpamaan singkat dari saya mengenai seperti apa kata hati dan kata pikiran. Kata hati didefinisikan sebagai perasaan atau tindakan mulia dari hati yang terdalam. Pikiran merupakan perasaan atau tindakan berlandaskan pemikiran sesaat entah itu baik atau buruk.

Cara sederhana untuk mendengarkan kata hati salah satunya adalah dengan menutup mata dan mengosongkan pikiran sejenak. Masuki diri Anda lebih dalam dan perhatikan apa yang dikatakan oleh kata hati Anda. Cermati lalu buka kembali mata Anda. Laksanakan.

Saya sepenuhnya percaya, segala hal yang dikatakan oleh hati merupakan perasaan atau tindakan terbaik yang manusia miliki yang dianugerahkan oleh Tuhan. Manusia yang selalu mengikuti kata hatinya, niscaya akan diselimuti kebahagiaan.

Sudahkah Anda mendengarkan kata hati Anda?

Seringkah?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Keinginan atau Kebutuhan?

Terkadang ketika kita berjalan ke mal, tempat perbelanjaan, dan sebagainya, kita melihat suatu barang dan tak jarang timbul rasa keinginan untuk memilikinya. Padahal barang itu sejenis dengan yang sudah dimiliki. Misalnya handphone baru. Dengan spesifikasi yang menggiurkan lantas kita jadi ingin membelinya. Membeli karena mengikuti nafsu (kepuasan) diri semata, mungkin juga ada faktor gengsi.

Ada juga yang berpikiran, “Ah buat apa saya beli lagi handphone yang baru? Walaupun fiturnya lebih canggih ini dan itu, yang penting kebutuhan saya untuk berkomunikasi dengan handphone lama saya ini sudah terpenuhi.”

Memang menjadi pilihan pribadi masing-masing lebih cenderung ke tipe yang mengikuti keinginannya atau yang penting kebutuhannya terpenuhi.

Dibalik itu semua, menurut saya, alangkah lebih baik sebelum membeli sesuatu, luangkan beberapa detik untuk memikirkan ini:

  • Ini keinginan atau kebutuhan ya?
  • Perlu banget tidak ya kalau beli ini sekarang?

Kalau Anda sendiri lebih cenderung ke mana?
Mengikuti keinginan atau berlandaskan kebutuhan?
Atau jangan-jangan menuruti keinginan itu merupakan kebutuhan?

Post ini tercipta dengan inspirasi dari nasihat ayah saya.

Akhir kata, salam sejahtera untuk kita semua.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Sedikit Renungan

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu itu dengan adil.

Tidak selamanya kehidupan itu selalu manis, ada saatnya ketika kita mengalami masa-masa pahit. Tidak selamanya dalam hidup ini kita selalu berada di posisi atas, kadang kita diberi cobaan dan berada di posisi bawah.

Jangan anggap ketika kita diberi kenikmatan itu pasti selalu anugerah, bisa saja itu merupakan cobaan untuk kita. Masihkah kita ingat pada-Nya? Atau kita malah terlena dengan kenikmatan itu sehingga jadi melupakan-Nya?

Renungkanlah.

Pemenang dan Pecundang

Hadapi Dunia

Hadapi Dunia

Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban.
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.

Pemenang selalu punya program.
Pecundang selalu punya kambing hitam.

Pemenang selalu berkata, ”Biarkan saya yang mengerjakannya”.
Pecundang selalu berkata, ”Itu bukan pekerjaan saya”.

Pemenang selalu melihat jawaban dalam setiap masalah.
Pecundang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban.

Pemenang selalu berkata, ”Itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa”.
Pecundang selalu berkata, ”Itu mungkin bisa, tapi sulit”.

Saat Pemenang melakukan kesalahan dia berkata, ”Saya salah”.
Saat Pecundang melakukan kesalahan dia berkata, ”Itu bukan salah saya”.

Pemenang membuat komitmen-komitmen.
Pecundang membuat janji-janji.

Pemenang punya impian-impian.
Pecundang punya tipu muslihat.

Pemenang berkata, ”Saya harus melakukan sesuatu”.
Pecundang berkata, ”Harus ada yang dilakukan”.

Pemenang adalah bagian dari tim.
Pecundang melepaskan diri dari tim.

Pemenang melihat keuntungan.
Pecundang melihat kesusahan.

Pemenang percaya pada menang dan menang (win-win).
Pecundang percaya mereka harus menang, orang lain harus kalah.

Pemenang melihat potensi.
Pecundang melihat yang sudah lewat.

Pemenang seperti thermostat, alat pengatur atau penyeimbang panas.
Pecundang seperti thermometer.

Pemenang memilih apa yang mereka katakan.
Pecundang mengatakan apa yang mereka pilih.

Pemenang menggunakan argumentasi keras dengan kata-kata lembut.
Pecundang menggunakan argumentasi lunak tapi dengan kata-kata yang keras.

Pemenang berpegang teguh pada nilai-nilai, tetapi bersedia berkompromi pada hal-hal remeh.
Pecundang berkeras pada hal-hal remeh tetapi mengkompromikan nilai-nilai.

Pemenang menganut filosofi empati, ”Jangan berbuat kepada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat kepada Anda”.
Pecundang menganut filosofi, ”Lakukan kepada orang lain sebelum mereka melakukannya kepada Anda”.

Pemenang membuat sesuatu terjadi.
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi.

Diambil dari “Kata-Kata Motivasi Dosis Tinggi” karangan William Tanuwidjaja.